Manifesto Seorang Native Demokrasi

Oleh: Firman Nugraha*

Sebagai seorang yang terlahir di dekade 90-an, bagi saya demokrasi adalah anugrah generasi. Kami melihat bahwa demokrasi adalah sesuatu yang taken for granted. Pasalnya saya bertumbuh kembang dalam situasi transisi dari sistem otokrasi orde  baru ke  demokrasi di era reformasi. Karenanya, saya adalah seorang native demokrasi atau penduduk asli demokrasi.

Demokrasi telah memungkinkan kita untuk hidup sebagai satu anak bangsa yang bebas, egaliter, dan  beraspirasi dalam pembangunan arah bangsa. Karena alam pikiran demokrasi pulalah kita berhasil mengubah struktur kekuasaan yang sentralistik-despotik untuk kembali ke pangkuan kedaulatan rakyat.

Demokrasi telah mengajarkan kita bahwa kekuasaan mutlak itu seharusnya dibatasi. Tidak ada satu tangan kekuasaan pun di negeri ini  yang super power, terkecuali kedaulatan rakyat  yang tertuang dalam filosofi negara Kita Pancasila dan UUD 1945.

Orde  Baru yang telah menjadi masa lalu menjadi sebuah pelajaran sejarah untuk kita. Bahwa anak bangsa ini ingin berdiri bersama dalam semangat kerakyatan kolektif. Republik ini  hadir untuk semua bukan untuk satu kekuatan personal, keluarga atau golongan.

Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. 'Kekuasaan itu  cenderung korup, kekuasaan yang absolut akan pula korup secara absolut.

Bagi kami seorang native demokrasi, sesungguhnya kami menolak segala bentuk kekuasaan yang absolut itu. Kami bukanlah generasi yang gemar dikooptasi. Kami bukanlah  anak bangsa yang nyaman direpresi dan  dimanipulasi. Kami bukanlah lapis generasi yang bisa dipimpin oleh  mereka yang bermental kleptokrasi ataupun oligarki yang berjubah demokrasi.

Kami menolak segala bentuk dominasi berkepanjangan yang memasung dinamika dan subtansi demokrasi. Dinasti adalah benalu demokrasi. Regenerasi kepemimpinan terancam mati, sehingga sedih hati ini  melihat masyarakat hanya menjadi penonton sepanjang hari.

Kembalilah ke dalam etika  demokrasi, karena tidak semua harus bernafsu dikuasai. Kembali lah pada pikiran yang sehat tentang demokrasi. Ajarilah kami bagaimana seharusnya menjadi pahlawan demokrasi demi masa depan.

Perundang-undangan dinasti hanyalah sebuah aturan yang menciderai spirit dan  subtansi demokrasi. Jauh tinggi dari  itu terdapat etika, kepatutan, dan  hati nurani demokrasi.

*Penulis ialah alumni Pemuda Lemhanas RI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Manifesto Seorang Native Demokrasi"